Belajar Bisnis : Membidik Pasar Potensial

Iklan 728x90

Belajar Bisnis : Membidik Pasar Potensial

Membidik market potensial
Bagi seorang pedagang atau pebisnis, menjual produk yang berkualitas saja tidak cukup, anda harus jeli dalam melihat potensi pasar atau target market yang berpotensi bisa meningkatkan penjualan anda.

Dalam Dunia Bisnis, Ada 3 Jenis Market Yang Harus Anda Ketahui.


1. Existing Market (pasar yang sudah ada), atau biasa disebut jug sebagai bleeding market alias pasar yang berdarah-darah. Kenapa? karena sudah terlalu banyak pemain atau kompetitor di bisnis itu. Sehingga harga pun sudah banting-bantingan.

2. Potential Market (Pasar Potensial) adalah pasar yang permintaan terhadap suatu produk sudah ada, tapi pemain atau kompetitor belum banyak. Produk bisa jadi adalah varian yang baru, namun bukan suatu produk yang asing, sehingga calon konsumen sudah mengerti bahkan mencari-cari. Inilah pasar potensial yang bisa anda garap untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

3. Sleeping Market (Pasar yang masih tertidur) adalah pasar yang belum terlihat permintaan terhadap suatu produk, tapi juga belum ada kompetitor. Disini anda harus melakukan riset dan uji coba untuk menciptakan sebuah tren baru, Masuk kepasar ini ibarat mengajarkan anak kecil berjalan, memakan waktu, tenaga dan biaya, dan bisa jadi kemungkinan berhasilnya 1 banding 100. 

Namun jika anda berhasil di Sleeping market ini, maka akan sangat baik, karena produk yang pertama biasanya lebih tertancap di benak kosumen daripada yang kedua. Dengan catatan, modal anda cukup untuk membiayai dalam proses edukasi.

Jadi, bidiklah Pasar Potensial, karena pemintaan sudah jelas ada, kompetisi rendah sehingga upaya yang diperlukan untuk mengembangkan dan mengetrenkan produk anda juga relatif lebih ringan dibanding existing market atau sleeping market.


Berikut Adalah Jenis Pasar Potensial


Baca pelan-pelan kondisi dibawah ini, sambil pikirkan produk-produk yang terlintas dibenak anda. Jika mendapatkan suatu ide, silahkan ditulis.

1. Banyak produk berkualitas, tapi gagal tren.

Penyebabnya bisa jadi karena momentum (timing) atau unsur lain seperti kemasan, merek, target pasar yang salah, cara promosi dan lainya.

2. Berhasil ngeTren tapi tak bertahan lama

Seperti tren bubble tea beberap tahun yang lalu. Sempat tenggelam, kemudian hadir Chat Time ke Indonesai. Tren lagi..

3. Produk baru, merupakan SOLUSI dari permasalahan yang ada

Inilah yang terbaik. ibarat orang kehausan di padang pasir, anda membawa sebotol air. Contohnya adalah Powerbank yang menawarkan solusi cerdas di tengah tuntutan kesibukan yang mengharus kan manusia tetap terhubung dengan gatget nya 24 jam.

Untuk beberapa kasus, bahkan harga tak menjadi sensitif lagi. Konsumen rela membayar mahal untuk mendapat solusi.

4. Produk yang telah menjadi komoditas, tapi tak ada merek yang menonjol.

Contohnya, J-CO yang berhasil menbuat donat menjadi tren lagi dengan konteks yang menarik. Dan juga ada Tao Kae Noi yang mengetrenkan camilan rumput laut di Thailand hingga merambah dunia.

5. Produk yang dianggap Gagal, Punya potensi Tren

Anda pasti tahu kue brownies. awalnya brownies adalah kue "kecelakaan" karena lupa mesakukan baking soda, tapi laris manis setelah diposisikan sebagai kue varian baru.

Pembuatnya berhasil membuktikan bahwa produk gagal itu hanya belum berhasil memberi makna yang baru pada produk tersebut. inilah yang disebut dengan re-positioning.

6. Banyak yang mencari suatu produk, tapi barang langka di pasaran.

Inilah efek suatu produk yang dipromosikan berlebihan, tanpa diimbangi dengan produksi dan distribusi yang merata. Kondisi ini bisa menjadi celah bagi anda untuk dan merebut pasar. Jika kelangkaan produk dikarenkan bahan baku yang sulit didapat, ciptakan produk penggati serupa.

7. Permintaan banyak, suplai juga banyak, tapi masih ada celah diferensiasi

Batik deh contohnya. 10 tahun terakhir ini batik seolah menjadi seragam yang wajib dimiliki orang Indonesai. Pemainnya pun sangat banyak, tapi motif dan warnanya masih banyak celah untuk diferensiasi dan mengetrenkannya.

8. Produk pelengkap dari suatu produk yang sedang NgeTren

Maraknya pemutar musik digital, pasti membutuhkan headphone. Beats yang tidak memiliki pabrik sendiri, hanya dalam waktu 2 tahun sejak pendirian perusahaan (2010-2012) meraup uang sebesar USD 309 juta dari penjualan 50,1 % sahamnya ke HTC. Headphone Beats bukan sekedar fungsi, tapi sebagai aksesoris gengsi kawula muda, meski saat tak mendengarkan musik.

9. Sedang tren di Wilayah / Negara lain, tapi belum tren di wilayah anda

Jika anda tinggal di wilayah Indonesai Timur, anda bisa membawa tren produk saat ini dari Jakarta ke wilayah anda. Begitu juga tren produk dari Amerika saat ini dibawa ke Indonesia. Yang terpenting perhatikan keselarasan dengan budaya atau selera penduduk setempat.

Bagaimana cara memonitor TREN? Cari saja majalah-majalah (terutama luar negri) yang berhubungan dengan produk anda. Bahkan sekarang bisa update berita dan tren fashion dari laptop atau smartphone anda seperti aplikasi Pulse, Feed, dan Flipboad.

10. Sudah ada yang Tren, tapi konsumen terbatas, karena harga

Nah, ini juga enak menggarapnya. Karena sudah ada yang membuka pasarnya, hanya saja tak terjangkau oleh golongan mayoritas. Contohnya frozen yogourt yang dipopulerkan oleh Sour Sally. Kenapa tidak dibuat versi kelas menengah ke bawah.

Kondisi- kondisi di atas semuanya mempuyai celah bagi anda untuk masuk, contohnya produk yang berkualitas, tapi kemasannya tak menarik utuk diambil, disini anda punya kesempatan untuk merebut pasar. Tak harus murni produk baru, nyontek dikit juga boleh, asalkan konsumen menandai produk anda sebagai sesuatu yang baru bagi mereka.


Nah, itulah beberapa jenis market potensial yang bisa anda target sebagai celah untuk menciptakan peluang bagi bisnis anda.

Sumber : Buku Buka Langsung Laris (karya Jaya Setiabudi)
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment