FfbrH7Hd32dBIzJfRUFjQOMyo355V6UzX2vYTtb5
3 Masalah Utama Pebisnis di Indonesia

3 Masalah Utama Pebisnis di Indonesia

Masalah Utama pebisnis di Indonesia yang harus diselesaikan
TIGA POIN YANG HARUS DISELESAIKAN OLEH PEBISNIS DI NEGERI INI

oleh : Rendy Saputra

Dalam perjalanan pemberdayaan, Saya menemukan bahwa sebenarnya... banyak pengusaha atau calon pengusaha yang sudah ketemu dengan peluang.

Ada yang sudah ketemu permintaan besar, ada yang sudah ketemu orderan, tetapi mereka tidak punya cukup sumber daya untuk mengeksekusinya. Mereka gak punya mesin, gak punya lahan produksi, akhirnya mereka mengambil kesimpulan jika mereka gak punya uang untuk memenuhi sumber daya.

Ada juga yang sangat punya keahlian. Alumni dari sebuah perusahaan besar. Faham operasi bisnis dari A sampai Z. Mengerti dan mampu mengeksekusi produksi dengan baik, tetapi lagi-lagi gak punya sumber daya, dan juga gak punya kanal penjualan yang kokoh.

Keadaan ini terkadang membuat seorang pengusaha MEMBATASI mimpinya, mereka memutuskan membatasi capaian, karena terbatasnya sumber daya.

Pupuslah harapan.
Dihapuslah mimpi.
Dibuanglah hasrat pencapaian.

Guru Dewa mengajarkan kepada Saya..

"Kang.. gak ada GOAL yang salah.. yang salah mah aksi.. target bisnis mah gak ada yang salah... seberapapun besarnya."

Artinya.. seberapa besarnya tujuanmu.. seberapa hebat.. semustahil apapun... semuanya benar. Selama mau melangkah dan memahami bagaimana jalan keluarnya.

Baca Juga : 10 Tips Sukses Memulai Bisnis Untuk Pemula

Ketidak berdayaan yang terjadi sebenarnya bukan karena keadaan, namun karena banyaknya pola fikir yang salah, karakter yang tidak mau bergaul, fikiran yang tertutup, dan sangka buruk sama kehidupan.

Itu semua membuat Anda pupus harap. Dan pola fikir penaklukan Anda melemah. Impoten dari segi pola fikir, gak produktif.

Ada 3 hal yang Saya catat sebagai poin yang harus diselesaikan pebisnis negeri ini, baik yang kecil, menengah maupun besar.

1. Lemahnya kemampuan merancang bisnis model.


Dalam bisnis model, setidak nya ada 3 bagian yang harus Anda fahami. Coba lihat Business Model Canvas.

Bagian pertama adalah bagian tengah. Apa kekuatan produkmu, value proposition. Apa yang membuat produkmu berbeda. Kuat. Dipilih.

Bagian kedua adalah bagaimana Anda menghantarkannya ke customer. Siapa customer Anda, apa segmennya secara demografi, apa segmennya secara psikografi. Bagaimana Anda menjualnya, bagaimana Anda mengkomunikasikannya. Bagian sebelah kanan ini menciptakan revenue stream.

Bagian ketiga adalah bagaimana menghadirkan produk yang ditengah tadi. Apa yang dibutuhkan? Baik dari segi manusia, mesin, lahan, bahan baku, modal kerja. Lalu apa aktivitas yang harus dilakukan agar produk itu hadir? Dan harus bermitra dengan siapa... agar lebih efisien.. lebih mudah... lebih cepat...

Tulisan Saya diatas sebenarnya adalah tentang bagian ketiga dari bisnis model. Dalam bisnis model canvas, ia berada dibagian kiri.

Untuk bagian kedua, banyak sekali pelatihan dan seminar yang membahasnya. Termasuk internet marketing, digital marketing, FB Ads, teknik closing, seabrek keahlian sudah hadir dan memenuhi sisi sebelah kanan.

Namun untuk sisi sebelah kiri, kemampuan merancang sumber daya, kemampuan menghadirkan tim, kemampuan menghadirkan aktivitas... ini yang masih PR banget. Belum banyak yang mampu.

Semua ini akibat dari ketidak fahaman banyak pebisnis terhadap bisnis model.

2. Lemahnya kemampuan membangun kerjasama.


Hari ini, Saya melihat kemampuan ini kurang. Lemahnya kemampuan untuk mengkomunikasikan peluang, harapan baik, resiko wajar, dan bagaimana bisnis yang benar.

Terlalu banyak pengusaha yang memilih menghindar, gak berani menghadapi keruwetan kerjasama, dan akhirnya bermain sendiri.

Jika ruwet, harusnya disolusikan, bukan malah dihindari. Salah satu terjadinya keruwetan itu... karena banyak kaidah logis yang dilanggar.. banyak kaidah syariah yang dilanggar.. mirip sama memilih zina ketimbang nikah... begitu juga di pendanaan.. Anda tebak sendiri arah tulisan ini kemana.

Kalo kerjasamanya bener, resiko diukur, gak usah neko-neko... harusnya semuanya jadi mudah. Ini poinnya.

3. Lemahnya kemampuan untuk memahami bahasa keuangan.


Akhirnya, bagian ketiga dari bisnis model itu berbicara tentang biaya : cost structure. Semua muaranya ada pada uang. Modal.

Maka, ketika Anda membangun design sumberdaya kemitraan, pasti Anda bekerjasama masalah uang, dan disinilah runyamnya.

Saya sering menguji kemampuan pengusaha pada kelas bahasa keuangan. Dari 60 orang, hanya kurang dari 10 orang, bahkan terkadang kurang dari 5 orang, yang bisa menghitung laba rugi dengan benar.

Bayangkan, menghitung laba rugi saja gak bisa... gimana mau bagi hasil? Ini kerunyaman akut dunia UKM negeri ini.

Saya jadi saksi mata. Asli. Asli. Beneran.... ketika seseorang memahami bahasa keuangan... kerjasama jadi mudah.. masuk akal... dan dia mampu membahasakan berbagai kondisi. Karena dia ngerti apa yang dihadapi.

Pengusaha yang ngerti bahasa keuangan, akan mampu menunjukkan berapa asset, berapa nilai mesin, berapa berat bisnis, bagaimana resiko bisnis. Semua jadi mudah.

Dari 3 hal itulah, Saya rasa... inilah masalah utama temen-temen pebisnis Indonesia hari ini. Ini yang membuat kita mampet, gak bisa bawa investasi masuk kedalam bisnis kita dengan bener. Akhirnya kita gak gerak kemana-mana.

Ketidakmampuan itu membuat kita akhirnya salah langkah, dan terus berkonflik, baik konflik ke diri sendiri, tim, sampai mitra sendiri.

Maka, bicara pemberdayaan adalah bicara pembebasan buta bahasa keuangan. Bicara pemberdayaan adalah bicara pembebasan buta bisnis model.

Saya mengajak kita semua bergandengan tangan. Ini serius. Saya gak bisa sendirian. Mari hadirkan wahana bagi pengusaha nasional untuk terus terupgrade. Mari hadirkan wahana bagi pengusaha nasional untuk bertemu dan bersinergi.

Hari ini, yang punya lahan kebingungan mau diapain, yang punya keahlian bingung gak punya lahan. Yang punya ruko bingung mau diapain, dan yang punya bisnis bingung gak punya ruko. Aneh. Kok gak ketemu.

Kalo begini terus, negeri kita akan lemah. Sulit ekspor, sulit bangun sesuatu, karena kita sendiri-sendiri. Persatuan dan Kesatuan hanya slogan yang gak bermakna di lapangan. Kosong. Pebisnis kita kebingungan, dan yang punya sumber daya lebih bingung lagi.

Semoga tulisan ini difahami dengan baik. Lalu direspon dengan aksi yang nyata.

Silakan forward tulisan ini ke linimasa Anda, atau sahabat terkasih Anda.

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik ---> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Baca Juga
SHARE
Ady Kusanto
Blogger pemula yang masih belajar

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment